Ardhi's Blog
Sebuah catatan kecil dari buah pikiran, pengalaman dan aktivitasku …

November 8, 2009

Diet #9 - Challenge and PES 6

PES 6, kependekan dari Pro Evolution Soccer 6, demikian nama game sepak bola yang merupakan produk dari salah satu perusahaan pembuat game nomor wahid di Jepang. Dan dari sinilah ceritaku kali ini dimulai.

Aku sudah tergila-gila dengan si PES 6 ini sejak awal kemunculannya. Hari-hari tak lengkap rasanya kalau mata ini tidak memandang pemain-pemain bola bohongan itu beraksi di monitor PC. Banyak prestasi yang sudah kudapat dari bermain PES 6 ini, antara lain : dimarahin bos karena kerjaan yang nggak beres-beres, kuliah amburadul dan tentu saja insomnia berkepanjangan. Boleh percaya boleh tidak, pada suatu ketika, aku pernah memainkan si PES 6 mulai dari matahari terbenam hingga fajar menyingsing, hanya untuk menyelesaikan Master League yang menjadi salah satu daya tarik utama game ini. Ketukan (baca : kutukan) teman-teman kos atau bahkan ibu kos yang ingin menagih uang sewa bulanan tidak pernah kugubris bila pada saat yang bersamaan kedua mataku berkonsentrasi penuh pada pertandingan di layar monitor.

Satu-satunya kejadian yang membuatku rela beranjak meninggalkan permainan ini adalah pada saat malam di mana yang terhormat bapak Fauzi Bowo dipastikan terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta yang ke-13. Waktu itu, aku sedang memaki-maki si wasit bohongan di layar monitor karena memberi hadiah pinalti kepada pemain lawan yang diving di area 16 meter, ketika dalam hitungan detik, lantai bergoyang, bumi berguncang, dan akupun lari tunggang langgang meninggalkan kamar kost. Ya, hanya kejadian gempa itulah yang membuatku merelakan kemenangan di depan mata dirampok oleh wasit dalam game bernama PES 6. Selebihnya tidak.

Kecanduan yang makin lama makin parah dan cenderung mengarah menjadi kegilaan. Aku jadi anti-sosial, sepulang kerja hanya mengurung diri di kamar, memaki-maki pemain lawan atau wasit yang tidak pernah ada di dunia nyata. Tak ada teman, hanya 15 tusuk sate, 3 lontong dan 1 botol Coca Cola ukuran satu liter yang menjadi saksi bisu sumpah serapahku setiap malam. Bangun kesiangan, pekerjaan yang tak kunjung selesai dan tumpukan lemak yang semakin bertambah sudah menjadi bagian hari-hariku pada saat itu.

Sudah lewat setengah tahun sejak saat itu …

Tak ada lagi sate, lontong atau Coca Cola bergelimpangan di kamar setiap malam. Yang ada sekarang hanya sepiring buah-buahan. Lemak-lemak itupun mulai beranjak hilang. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.

PES 6.

Ya, game bernama Pro Evolution Soccer 6 itu masih tetap menguasai layar monitor PC ku hampir setiap malam. Kubilang ‘hampir’, karena sejak mendapat ‘hidayah’ bulan juni lalu, aku sukses mengurangi frekuensi main game ini lebih dari setengahnya. Kalau sebelumnya minimal 6 jam bisa habis hanya untuk memelototi layar monitor, sekarang paling lama hanya 2 jam aku bisa tahan, itupun tidak setiap malam. Tapi pada dasarnya, kecanduanku pada game ini tak pernah luntur sedikitpun.

Jadi, apa sebenarnya yang menjadi penyebab kecanduan itu ? Kenapa hanya game itu bukan game lain ? Dan apa hubungannya dengan dietku sekarang ?

Dulu, sempat terpikir kalau aku ini mengidap penyakit gila game atau yang dalam istilah bekennya disebut Video Game Addiction, sampai-sampai pernah ada niat berkunjung ke psikiater untuk konsultasi kejiwaan. Toh, ternyata aku normal-normal saja, karena sebelum niat itu terlaksana, aku masih bisa menahan diri untuk tidak terlalu sering memainkan si game bola. So what’s the matter with me ?

Setelah pengamatan berbulan-bulan, sepertinya aku sudah menemukan jawabannya. Sangat simple.

CHALLENGE.

Bila diperhatikan, PES 6 jelas kalah jauh dengan game-game bola terbaru saat ini, seperti FIFA 2010 keluaran EA Sports atau bahkan PES 2010 yang merupakan saudara muda PES 6 sendiri. Mulai dari sisi grafis, suara, sampai gameplay, PES 6 sudah tidak ada apa-apanya. Tapi ada satu hal yang tidak kutemukan di game-game bola termutakhir itu. Ya, CHALLENGE itu tadi.

Para maniak PES 6 yang sering bermain dalam tingkat kesulitan ‘Very Hard’ pasti sudah mengerti hal ini. Bermain dalam level ‘very hard’ benar-benar menguji kematangan emosi seseorang. Bukan hanya karena pemain yang dikendalikan komputer akan bermain dalam tingkat algoritma tertinggi yang diprogramkan kepadanya, tapi juga karena segala faktor non-teknis, mulai dari cuaca, bola sampai kepemimpinan wasit akan berkonspirasi untuk mengalahkan anda.

Secara umum, aku sudah hapal mati taktik yang biasa dipakai si komputer. Pada saat menyerang, tim komputer akan menggunakan taktik Total Football, yang dipopulerkan oleh timnas Belanda pada tahun 70an, ditambah serangan balik cepat. Sementara pada saat bertahan komputer akan menggunakan taktik Catenaccio andalan timnas Italia dengan menumpuk pemain bertahan di depan gawang. Taktik yang luar biasa. Pada level tersulit ini, statistik tiap pemain sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk menghadapi tim lawan. Pemain yang punya skill point 99 di bisa saja tak berkutik oleh pemain komputer dengan skill point 80-an. Di sinilah letak ketidakadilan dan konspirasi tadi.

Tidak jarang hanya dengan sedikit senggolan, bola bisa berpindah kaki ke pemain lawan. Mengejar dan merebut bola dari pemain lawan sama saja susahnya, terkadang tiga pemain raksasa yang larinya paling cepat sekalipun tidak akan mampu merebut bola dari satu pemain kuntet yang cuma punya speed dan body balance 80. Kecurangan makin menjadi-jadi karena si wasit yang 99% lebih memihak komputer, tak peduli di kandang mana ia memimpin pertandingan, dan tidak jarang merogoh kartu dari sakunya hanya untuk pelanggaran remeh yang dilakukan pada si pemain komputer. Lebih dari itu, sering sekali terjadi keajaiban yang terjadi di lapangan. Misalnya saja, serangan kita yang selalu digagalkan tiang gawang, bola buangan pemain komputer yang entah bagaimana caranya bisa selalu tepat mengarah ke pemain depannya, penjaga gawang si komputer yang seolah punya lem di tangan dan indera keenam dan hal-hal tak logis lainnya. Hal ini tidak pernah terjadi pada game-game bola terbaru dengan alasan realitas yang selalu didengungkan oleh perusahaan-perusahaan pembuat game tersebut.

Orang yang masih bisa berpikir jernih mungkin hanya akan sekedar mengumpat bila mengalami berbagai kecurangan tersebut. Tapi aku bisa menjamin, kalau orang stress yang bermain PES 6 dalam kondisi seperti itu, minimal keyboard atau monitor PCnya tidak akan selamat dari amukan. Contohnya adalah salah satu keyboardku di kamar kost.

Tapi ada satu kenikmatan yang aneh, setiap kali aku bisa mengalahkan si komputer tersebut. Ada rasa puas yang luar biasa yang terasa pada saat aku membantai tim yang selalu mencurangiku tersebut. Tidak jarang aku berteriak histeris sewaktu sukses memperdaya kiper lawan di masa injury time, ketika timku tertinggal dari tim komputer. Perasaan nikmat yang sama dengan yang kurasakan ketika aku menjadi juara kelas semasa SD sampai SMP, diterima di salah satu sekolah teknik terbaik di sulsel, lolos UMPTN dan tentu saja, rasa puas yang kurasa semenjak lemak-lemak di tubuh ini semakin terkikis seiring dengan berjalannya waktu.

———

 

Dulu kalau tidak salah, aku pernah menulis bahwa salah satu kenikmatan terbesar yang dirasakan oleh orang diet adalah pada saat orang lain di sekitarnya memuji dan mengakui keberhasilannya dalam mengusir timbunan lemak yang ada di tubuh orang tersebut.

"Wah … kamu kurusan ya sekarang..", atau "Ouw .. dietnya sukses nih !", dan kata-kata pujian lainnya yang bisa membuat si pasien diet terbang ke langit ketujuh di siang hari bolong. Semua sudah kualami. Semua sudah kurasakan. Dan apa komentar yang paling sering kudengar sekarang ?

"Wah hebat … bodi lu bagus ya sekarang, salut gw!", kata salah satu seorang teman. Teman cewek yang lain memberi komentar, "Dhi, ternyata lu ganteng ya kalo langsing ..". Komentar yang sudah 20 tahun lebih tidak kudengar lagi karena aku mulai gendut sejak kelas 4 SD. Sejak kelas 4 itulah, nama panggilan yang dianugerahkan orang tua dan guru kepadaku seolah tidak pernah digubris oleh teman-teman di sekitarku. Sebagai gantinya, mereka memanggilku dengan nama-nama baru yang sering bikin kuping panas seperti gendut, gembrot, battala, commo, endut dan sinonim-sinonimnya. Jadi, bisa dibayangkan betapa puas dan senangnya hatiku dengan pengakuan-pengakuan dan komentar terbaru dalam sebulan terakhir.

Tapi … demi Allah, dari hari ke hari, komentar-komentar itu semakin gampang terdengar di telingaku. Sekarang, bukan hanya teman di kantor, tapi teman kos, ibu kos, ABG penjaga warung kelontong, penjual sate, tukang sol sepatu sampai anak penjual ikan juga ikutan ngasih komen. Parahnya lagi, mbak-mbak penjual warteg di seberang kali Ciliwung itupun sekarang sudah mulai berani lirik-lirik setiap kali aku memborong sayuran di warungnya.

Bukannya bermaksud sombong dan munafik, tapi terus terang aku mulai jenuh dengan komen-komen itu. Sekarang cuma bisa senyum kecut campur malu tiap kali dengar kata-kata mutiara di atas. Saking jenuhnya, sampai sempat terlintas pikiran : APAKAH AKU BERHENTI DIET SAJA YA SEKARANG ?? TOH UDAH KURUSAN ….

Beberapa teman memang menyarankan demikian. Konon karena tulang dan kepalaku besar, kalo terlalu kurus nggak enak dilihat. Nggak proporsional katanya. Dan aku sempat setuju. Sekali lagi, hanya sempat setuju. Dan karena itulah, aku sempat mengurangi diet, mulai banyak makan nasi dan makanan tinggi kalori lainnya. Diet Santai katanya.

Tapi apa yang kurasakan kemudian ? Hampa. Tak bergairah. Hanya seperti itukah ? Haruskah kuhentikan semua kerja keras ini ? Jalan kaki bersimbah peluh sejauh 3 km setiap malam, menyusuri jalan sultan Sjahrir yang sunyi angker sambil membawa tas dengan bobot setara anak umur 5 tahun di punggung, digonggongi anjing great dane di rumah no.21 itu, menghentikan ini semua hanya karena masalah penampilan ?

Sekarang aku mulai mengerti dari mana datang rasa puas yang selalu kurasakan setiap kali bermain PES 6. Tantangan. Hidup ini tidak akan pernah terasa nikmat tanpa ada yang namanya tantangan. Bermain game dan diet adalah dua hal yang berbeda, tapi memiliki tujuan dengan substansi yang sama yang disebut kemenangan. Dan ketika tantangan itu hilang, hidup akan terasa lebih hambar, sepi dan kurang bermakna.

"Kalau kamu masih gendut seperti ini sampai umur 30 puluh, umurmu tak akan panjang".

Masih terngiang jelas kata-kata itu di telingaku ketika duduk dalam kereta Pakuan Express Bogor-Jakarta, di suatu senja bulan Juni yang lalu. 75-77 kilogram, ukuran normal menurut BMI (Body Mass Index). Bukankah itu tujuanku yang sebenarnya ? Saat ini aku masih dalam kategori overweight, dan sudah jelas, tujuan akhirku masih belum tercapai. Bodoh sekali kalau aku berpikir untuk mengakhiri diet hanya karena komentar "Ganteng" atau "Langsing" itu.

Tantangan itu masih belum usai, inilah ujian terbesar selama aku diet dan aku masih menanti rasa puas yang ingin kurasakan setelah target 75 kilogram itu tercapai. Rasa puas yang sama ketika aku membantai tim-tim brengsek dalam game PES 6.

Berat badan terakhir : 86.5 kg

October 25, 2009

Diet #8 - Eighties

 

Lagi malas nulis … yg jelas dalam dua minggu ini berat badan cuman turun 3 kilo. Mulai makan nasi dikit-dikit, kadang makan malam juga, plus ngemil. Namanya juga diet santai .. setidaknya banyak pelajaran yang kudapat dalam dua minggu terakhir ini … 

Misalnya, kalo lagi stress lebih baik libur diet dulu, sebab ternyata stress berbanding lurus dengan rasa lapar. Makin stress, makin gampang lapar .. that’s the point. Dan tentu saja, rasa lapar juga bisa bisa bikin stress, akibat gula darah yang minim waktu lapar. Ujung-ujungnya, nafsu makan bisa meluap-luap tak terkontrol kalo udah kayak gitu.

Sekarang jogging sudah bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Kalo dulu, aku lari 100 meter aja udah kayak orang mabok dikejar-kejar satpol PP, jantung sudah kayak mau meledak. Sekarang, lari 1-2 kilo nonstop juga nggak bakalan kehabisan nafas. Andaikan kaki ini nggak pegal, mungkin tadi pagi aku bisa lari sampai bunderan HI dari tugu proklamasi.

Dan yang jelas, acara jalan kaki dari Thamrin-Salemba yg kulakukan hampir tiap hari sekarang sudah kayak jalan kaki dari Cikini-Salemba. Nggak ada rasa capeknya lagi. Mungkin ntar aku berhenti saja jalan kaki, diganti dengan jogging tiap habis subuh. Soalnya, selain sangat tidak efisien, orang-orang di kantor atau kost selalu bertanya-tanya, kenapa bajuku basah dengan keringat setiap kali habis jalan. Capek jawabnya …

Sebagian orang ada yg bilang kalau aku lebih baik berhenti diet saja, udah cukup katanya. Tapi sorry ya kakak-kakak, adik-adik dan tante-tante … sampai target 75kg-ku tercapai, aku nggak akan berhenti.

That’s my promise to myself 4 months ago, and i won’t break that promise. I know my own body best, and i know i can still do this freaking diet until its limit … so don’t worry. I will be alright emoticon

So … welcome eighties, goodbye nineties emoticon

Berat badan terakhir : 89.5

 

October 23, 2009

Puisi Untuk-Nya (bagian 2)

Senyum itu terus mengembang di bibirku … entah kenapa begitu … aku pun tak tahu … semua perasaan itu … senang, sedih, tegang, lega dan takut menjadi satu …

Mungkin aku sudah gila … sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota yang bernama Jakarta … hanya untuk mengejar cita dan cinta … yang masih tidak jelas akhir ceritanya …

Tuhan … inikah jawabanMu ???  Atas semua doaku ??? …. Hamba mungkin tidak pantas mengatakan ini semua … karena Engkau pasti sudah tahu semuanya …

Tapi Tuhan … hamba hanya ingin mencurahkan semua rasa di jiwa … karena hanya pada-Mu dan dunia maya … hamba bisa bercerita segalanya …

Aku sangat bersyukur dengan semua rizqi-Mu … yg selama ini Kau curahkan kepadaku … dan kali ini, aku mulai mengerti semuanya … dan mungkin itu sebabnya … aku masih bisa tersenyum menghadapi ini semua …

Dua bulan lagi … semuanya akan menjadi pasti … apakah ini semua akan menjadi realita … atau hanya akan jadi mimpi belaka … 

—————-

Salemba Satoe, October 23rd 2009

October 11, 2009

Diet #7 - Yoyo Effect

 

23 September 2009

Aku baru saja tiba di kost setelah perjalanan pulang yg menyenangkan dari bandara Soekarno-Hatta. Disebut ‘menyenangkan’ karena sore itu aku melihat pemandangan yg beda setelah sekian lama merantau di kota kosmopolitan ini. Jakarta nyaris kosong melompong. Di beberapa sudut kota aku bahkan melihat sekelompok anak-anak bermain futsal di jalan raya ! Andaikan Jakarta bisa seperti ini setiap hari …

Tapi pemandangan yg menyenangkan itu seketika berubah jadi horor ketika aku melihat angka yg ditunjuk oleh jarum timbangan itu …

99 KG !!!!!

Aku bengong sesaat. Aku turun dr timbangan. Terus naik lagi ke timbangan. Turun lagi. Begitu terus sampe 10 menit. Tapi angkanya tetap nggak berubah, karena konon timbangan memang tidak pernah berdusta. Masih 99 kilo … bahkan kadang kalo aku gerak dikit, jarum timbangan laknat itu ikut bergerak naik ke 99.5 kilo …

Celaka … belum ada sebulan sejak aku bersumpah untuk tidak akan pernah melihat angka tiga digit di timbangan itu lagi. Ternyata cuma butuh 5 hari untuk menghancurkan semua usaha yg kulakukan dalam sebulan terakhir … good job … bagus sekali nafsu … ternyata benar apa yg disabdakan Rasulullah : berperang melawan hawa nafsu memang jauh lebih susah dibandingkan berperang melawan orang kafir ataupun perang nuklir ….

—————

27 September 2009

Badan ini kaku. Sekujur tubuh rasanya remuk. Sudah empat hari sejak aku memulai operasi pengurusan badan level 2. Diet ketat kembali diberlakukan. Porsi gerak tubuh ditambah, kali ini nggak cuma jalan 5 kilometer sehari, tapi plus jogging dari Menteng-Monas tiap hari libur. Apa boleh buat. Sekarang cuma bisa terkapar kelelahan di tepi kolam bundaran HI … memandang satu per satu manusia ibukota yg lalu lalang menikmati car-free day di bilangan Sudirman-Thamrin pagi ini.

Kulihat satu dua bis kota menurunkan penumpangnya. Andaikan diet bisa seperti itu. Bisa berhenti sesaat, terus ngebut lagi.

Kalo dari berbagai sumber yg (sepertinya) bisa dipercaya di internet, konon aku terkena sindrom efek yoyo yg biasa menyerang para dieters yg nekat coba-coba mangkir dari program dietnya. Sekali nggak bisa menahan nafsu, akibatnya akan langsung terlihat, bahkan bila diukur dengan timbangan rusak sekalipun.

Begitu sampai di kost, aku coba naik ke atas timbangan lagi. 

96 KG ….. 

aku ambruk, terlelap lagi di atas kasur … keringat membanjir, nyaris kehabisan tenaga …

—————-

4 Oktober 2009

Tiga hari sebelum ulang tahun ke-28. Dua minggu sebelum lebaran kemarin, aku yakin kalau berat badan bisa sampai 85 kilo waktu ultah nanti. Tapi kenyataan berkata lain. Seminggu terakhir ini berat badan nyaris tidak banyak berubah, dan aku tahu apa sebabnya.

Aku punya kebiasaan untuk berkunjung ke sanak saudara di Jakarta dan sekitarnya setiap kali selesai mudik, dan ini sudah ritual tahunan. Karena acara ini biasa dibarengi dengan pembagian oleh-oleh dari kampung, maka tidak datang berarti dosa. Dan seperti halnya ritual pada umumnya, pasti ada acara perjamuan di dalamnya.

This was the problem …. feast time …

"Ih kamu kurusan … tapi kalo di sini dietnya distop dulu yah …", itulah kata-kata para kakak sepupu ketika aku tiba. Nyaris tidak ada bedanya dengan kata-kata mamah waktu aku mudik dulu. Dan, setelah itu, berbagai makanan bertebaran di depanku, dan seperti biasa, aku tak kuasa menolak ajakan simpatik itu. Maka masuklah amplang, keminting, kue-kue kering, soto, marshmallow dan bergelas-gelas minuman bersoda ke dalam perutku. Anehnya, walaupun sudah terbiasa kosong, tidak ada yg aneh dengan perut ini ketika dijejali dengan makanan dan minuman tersebut.

Dengan demikian, hancurlah sudah teoriku tentang perut yang bisa berubah kapasitasnya ketika sedang diet. Ini masalah mental. Kalau kita bisa menahan diri, niscaya perut pun tidak akan memaksa untuk diisi lebih banyak dari yg seharusnya. Dan sekali saja mengkhianati kedisiplinan itu, perut bisa berubah menjadi mesin giling, apapun bisa masuk ke dalamnya.

Oleh karena itu, setelah semua acara perjamuan itu selesai, aku bisa merasa sedikit lega. Lega karena bisa melanjutkan program diet yg memuakkan ini tanpa harus menolak ajakan makan-makan lagi. Maaf ya kakak-kakak, adikmu ini mungkin tidak akan berkunjung lagi dalam waktu dekat, setidaknya sampai dua bulan ke depan. Ini demi masa depanku juga, kecuali kakak-kakak bisa tidak memaksaku untuk menyantap makanan-makanan penuh kalori itu.

Setelah acara perjamuan, aku masih sempat naik ke atas timbangan ….

94 KG …

—————–

11 Oktober 2009

Pusing …. mata berkunang-kunang ….. terutama kalau bangkit dari kasur …

Sebenarnya aku sempat mengalaminya beberapa kali selama diet, dan berkat novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, aku jadi tahu gejala apa yg saat ini kualami … Hipotensi alias tekanan darah rendah …

Konon, gangguan ini terjadi karena darah terlambat disuplai ke otak ketika orang yang bersangkutan bangun dari posisi tidur atau duduk, dan coba tebak, apa keterangan lebih lanjut yang kubaca di Wikipedia ?

HYPOTENSION CAN BE LIFE-THREATENING !

Karena itu, sekarang aku tidak terlalu memforsir diet ini. Makan tetap dibatasi, tapi kalau udah lapar atau kepala mulai pusing, aku tetap makan, tentunya dengan makanan rendah kalori .. karena hipotensi lebih banyak dipacu oleh rasa lapar dan dehidrasi. Toh .. setidaknya berat badan sudah bisa turun stabil lagi seperti sebelumnya.

Sekarang sudah bisa sedikit tersenyum kalo naik timbangan butut ini …. Efek Yoyo sudah berakhir ….

Berat badan terakhir : 92.5 Kg emoticon

 

September 22, 2009

Saigo no Yoru

 

Balikpapan …..

Tidak terasa, sudah 13 tahun sejak pertama kali aku merantau, meninggalkan kota ini. Saat itu, medio Mei 1996, masih teringat jelas, abah, adik, nenek, sepupu-sepupu, bibi dan paman, ikut mengantarkan aku dan mamah berangkat ke Makassar dari pelabuhan Semayang. Entah apa yang ada di pikiranku dua minggu sebelumnya. Ajakan tante untuk melanjutkan sekolah di STM Telkom Makassar langsung kuterima, walaupun sebenarnya mamah dan (Alm.) kakek agak keberatan dengan keputusanku. Padahal andaikan nggak merantau, aku bakalan diterima di sekolah terbaik di Balikpapan. Mungkin ini semua karena darah bugis yang mengalir dalam tubuhku, akhirnya kuputuskan tetap merantau setelah lulus SMP.

Hidup ini penuh pilihan, itu kata orang-orang. Dan memang, keputusan yang kuambil juga harus dibayar mahal. Perbedaan suasana dan budaya di Makassar, didikan keras tante, ditambah meninggalnya kakek hanya empat bulan setelah aku merantau, benar-benar nyaris membuatku-yang sejak lahir dibesarkan di lingkungan masyarakat Banjar-lari kembali ke Balikpapan. Tapi dukungan orang tua juga yang bisa membuatku bertahan hidup di Makassar.

Keputusan yang pada akhirnya kusyukuri. Andaikan aku waktu itu nggak merantau, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dengan teman-teman di STM Telkom, dan mungkin juga nggak akan ngerasain kuliah di ITB, dan kerja di Jakarta seperti sekarang.

Sekarang, 13 tahun kemudian, aku kembali ke tempat yang sama dengan waktu aku meninggalkan Balikpapan untuk pergi merantau, pelabuhan Semayang. Entah kenapa, ada rasa penasaran dalam hati. Apa ya yang kira-kira terjadi kalo waktu itu aku nggak merantau ? Nah !

Andaikan teori tentang dunia paralel itu benar adanya, aku ingin melihat "versi" kehidupanku, andaikan aku nggak jadi merantau. Kalo itu terjadi … ehm …. mungkin sekarang aku sudah kerja di salah satu perusahaan asing di Balikpapan, sudah punya mobil, uang banyak, istri, anak dll. Nggak kayak sekarang, hidup dikosan, kerja di salah satu BUMN yang saat ini masih bermasalah dengan anggaran, gaji kecil, udah gitu masih single pula …. hehehe …

Bukan, ini bukan tulisan untuk meratapi diri. Seperti yang kubilang di awal tadi, hidup ini penuh pilihan. Mungkin ini sudah jalan hidupku sejak awal. Waktu SD, ketika teman-teman lain punya cita-cita jadi pilot atau dokter, aku malah kepingin jadi kayak Habibie. Dan karena itulah, sampai detik ini, aku masih berpegang teguh dengan cita-cita itu. Cita-cita (atau lebih tepatnya, idealisme) yang sampai saat ini membuatku rela mengadu nasib di ibukota.

Balikpapan ….

Kota ini sudah banyak berubah. Pendatang makin banyak. Gedung-gedung tinggi mulai menjamur. Tapi kenangan-kenangan tempo dulu masih tergambar jelas dalam ingatan. Setiap kali memandang obor kilang pertamina itu, seakan aku bisa melihat ke masa lalu. Masa kecilku di dam, masa SMP di gunung pasir, masa-masa aku menghabiskan hari-hariku bersama adik di kebun rumah, masa-masa yang terlalu manis untuk dikenang lagi.

Jauh di lubuk hati … aku ingin kembali lagi … hidup di kota ini. Memberikan yang terbaik untuk orang tua dan tanah kelahiranku sendiri. Pergi dari segala kebisingan dan kemunafikan ibukota yang telah meracuniku selama ini.

Ini malam terakhirku di Balikpapan tahun ini … Tuhan, kumohon …. aku ingin bisa kembali lagi ke tempat ini suatu saat nanti …. 


Layout Title: Goodbye Summer
Compatible Browser(s): Mozilla Firefox
Compatible Screen Resolution: 1280px by 800px
Number of Visits: (Put your counter here!)